Sejatining Sandang, Pangan, Loro lan Pati

Yang dimaksud kata diatas adalah arti yang sebenarnya yang terdapat dalam diri manusia, kehidupan, manusia, tujuan manusia hidup, dan apa yang harus di perlukan dalam kehidupan yang sebenarnya manusia itu hidup di alam yang Fana atau Dunia ini.

Sejatining Sandang

Yaitu  Sejatinya daripada Busana Manusia hidup, sebenar-benar Sandang daripada manusia hidup adalah Akhlak yang mulia, Budi pekerti yang luhur, sopan santun, Akhlak terpuji. Yang kesemuanya itu merupakan harus dipunyai oleh manusia untuk mencapai Makhluk Alloh yang Mulia.

Sejatining Papan

Yang dimaksud dari papan untuk manusia bukanlah suatu tempat yang layak berada di Bumi ini misalkan Rumah, gubuk dll. Melainkan tempat yang layak Kekal abadi selama-lamanya, tempat dimana kita tempati saat kita belum diturunksn ke Bumi yaitu Surga. Maka dari itu janganlah kita menganggap Kehidupan di dunia ini kehidupan segalanya. Kehidupan dunia ini merupakan kehidupan yang Fana, semaua yang ada di Bumi pastilah dia akan mengalami kehancuran. Maka penuhilah tujuanmu untuk menghadapi kehidupan yang kekal abadi yaitu Surga di kehidupan Akherat nanti.

Sejatining Loro

Yang sebenarnya dan sesungguhnya lorone/sakitnya manusia itu sifat-sifat tercela yang merupakan akan meresahkan kita dalam hidup di dunia ini, dimisalkan sifat dengki, kita akan selalu kurang dan benci jika orang lain mempunyai kebahagiaan atau sesuatu yang tidak kita miliki. Sehinggga kita merasa iri atau tidak  suka dengan hal tersebut. Jika kita bias menahan ari sifat itu, kita pastinya akan tentram dan mensyukuri dengan apa yang kita miliki sendiri dari pemberian tuhan atau Alloh SWT. Dan percaya, setia pada hati sanubari/nurani yang selalu membawa kita kepada keselamatan, dan kebahagiaan.

Sejatining Pati

Pati disini tidak sama dengan Meninggal Dunia yang wajib terjadi pada manusia, Pati disini bias di ibaratkan seperti orang yang putus asa, orang yang hidupnya tidak beratur  beralur maju melainkan malahan mundur sehngga tidak membawa kita kepada kebaikan tetapi sebaliknya akan menuju kehancuran. Seperti contoh orang yang dimasa kecil hidupnya baik, sopan santun, taat beribadah, sopan dan taat kepada Orang Tua tetapi dimasa muda terkena gangguan oleh kehidupan luar yang bebas yang menjadikan dia menjadi suka mencuri, berani membantah Ortu, beribadah semakin surut sehingga kebaikan yang dilakukan lebih sedikit daripada kemurkaan dan kejahatan. Ini bisa diartikan mati karena Hati Nuraninya sudah tertutup dengan nafsu dan perbuatan-perbuatan buruk.

Cara untuk menuju Hidup Setia Hati

  1. Jujur
  2. Eling (Ingat)
  3. Sabar
  4. Narimo (menerima)
  5. Amal kang Ikhlas

 

  1. Jujur

Jujur adalah Perkataan ata perbuatan yang dilakukan manusia itu sesuai dengan yang tersirat ataus sesuai yang dikatakan oleh Hati Nuraninya.

  1. Eling

Eling adalah ingat, ingat adalah tidak melupakan, jadi jadi diharapkan kita selalu ingat akan segala segala kewajiban yang harus kita emban dimuka bumi ini dan kita harus ingat kepada Tuhan YME. Serta kita diharapkan harus selalu ingat asal kita hidup, untuk kita hidup, dan mau kemana kita hidup. Dalam bahasa jawa dikatakan “ELENG MARANG DALANE” atau seperti yang diwejangkan oleh para leluhur kita yaitu “ WONG URIP KUDU ANGERTENI SANGKAN PARANING DUMADI”.

Advertisements

Sebuah Kisah tentang “Ayah”

January 23, 2018 Leave a comment

Empat puluh hari sudah kematian sang istri. Suasana rumahnya masih berkabung. Tetangga dan para kerabat baru saja membereskan piring-piring makanan, gelas dan karpet setelah selesai acara tahlilan.

Di dalam kamar dengan cahaya lampu temaram Baskoro, pria berusia senja itu terdiam. Menikmati secangkir kopi yang rasanya sangat jauh berbeda dengan buatan istrinya selama ini. Itu yang membuat pria itu tak bersemangat menghabiskan sisanya.

WhatsApp Image 2018-01-24 at 13.36.16

Ayah.. aku ingi selalu di dekat ayah.. (Rhn, Brq, Ozn)

Dipandangi jemari keriput di atas pangkuan. Sedikit gemetar. Mungkin karena dingin malam yang masuk melalui celah papan yang terbuka, mungkin karena tenaganya sedikit terkuras setelah repot mengurusi 40 hari kematian istrinya, atau mungkin … karena suara obrolan tiga putra dan satu putrinya di luar kamar sedikit mengusik hatinya.

Ah, bukan sedikit, tapi teramat.

“Apa ini tidak terlalu terburu-buru? Bapak kan masih ada. Tidak pantas lah kita membicarakan masalah ini sekarang.” Terdengar suara putra keduanya. Sedikit ragu akan pembicaraan mereka di malam empat puluh hari almarhumah ibu. Setto namanya. Laki-laki yang sekarang sudah punya penghasilan cukup lumayan di salah satu kota besar.

“Kita jarang berkumpul seperti sekarang ini, Mas To. Dari pada nantinya terjadi kesalah pahaman jika cuma bicara lewat telepon atau SMS-an, jadi tak ada salahnya kita bicarakan sekarang,” sanggah Kusrini, anak perempuan satu-satunya. Suaminya sedang sibuk merintis usaha kecil-kecilan di daerah kelahirannya sana. Sudah lama dia selalu bertanya perihal warisan pada sang ibu. Mungkin karena dia berharap mendapat bantuan modal dari keluarganya.

“Bener kata Kusrini. Masalah warisan bisa jadi hal yang sangat sensitif bila tidak menemukan titik temu pembicaraan. Aku tak mau nanti kita berempat malah bermasalah pada akhirnya.” Danang, putra pertama membenarkan. Sebenarnya dia tidak tinggal terlalu jauh dari sini, hanya saja kesibukannya berdagang membuat ia jarang datang. Lumayan sukses, tapi baginya semakin banyak tambahan dana, maka semakin bagus nasib toko usahanya.

“Jadi yang bapak punya sekarang tinggal 1 hektar kebun dan pekarangan rumah ini.”

Itu suara putra ketiganya. Bagas namanya. Pemuda yang baru mengecap manisnya biduk rumah tangga setahun lalu. Bekerja sebagai karyawan di sebuah toko di kota, membuatnya tidak mampu mengontrak rumah lebih besar dari kamar Baskoro. Kecil sekali. Tapi anehnya, pemuda itu lebih menikmati tinggal di sana dari pada harus di desa bertani menggarap kebun sang ayah.

Read more…

Cirebon Blitar with KA Menoreh – Cepat Eka – KA Sancaka – Bus Kawan Kita – Gojek

October 30, 2017 2 comments

Bismillah,

Hari Jumat Tertanggal 20 oktober 2017, posisi saya masih di kuningan jawa barat. dalam kondisi alhamdulillah sehat wal afiyat dengan mengikuti acara internalisasi dari kantor. acara akan berakhir sekitar pukul 21.30. seperti biasanya setiap hari jumat saya pasti pulang ke blitar, yang kalo normal menggunakan kereta api dari pasar senen ke blitar, pilihannya yaitu brantas, majapahit dan matarmaja. eksekutif belum masuk nominasi karena mihil.hehe

perjalanan dari kuningan ke cirebon jika dilihat dari aplikasi maps, akan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45-60 menit. sedangkan jadwal brantas di cirebon pukul 20.21 dan majapahit 21.20 tentu tidak cukup setelah selesai acara langsung ke cirebon. maka dari itu sy memutuskanlah menggunakan KA menoreh yg tujuan akhir meskipun semarang tawang. sesampai di stasiun prujakan sekitar pukul 23.00, kemudian melakukan checkin dan menunggu untuk disuruh masuk oleh petugas. Menoreh datang tepat waktu dan berangkat tepat waktu jg yaitu pukul 23.39.

New Doc 2017-10-30_2

Bismillah berangkat dengan menoreh untuk pertama kalinya turun di semarang lalu nyambung dengan bus sugeng rahayu pukul 03.50 kalau nutut atau eka 4.30. akupun tertidur pulas di menoreh dengan tempat duduk kereta ekonomi komersial dengan model premium. sesampai disemarang lumayan tepat waktu yaitu 3.30, yaa telat 2 menitan lah..

Read more…

Kembali Bertugas

September 18, 2017 Leave a comment

Bismillah,

Terhitung setelah tgl 3 september 2015 sy migrasi ke jawa timur di 2 kota yaitu Blitar dan Surabaya. Pas 2 tahun sudah ga pernah berkunjung ke tempat kerja.
Pada tanggal 10 september 2017 sy hrs berangkat lg ke Jakarta, perjalanan sy awali dengan naik KA Brantas relasi BL-PSE. Sblmny kepikiran kalo ke jkt dl untuk nyari2 tempat tinggal, tp akhirnya itu tdk sy lakukan krn sy pikir buang2 energi dan ongkos. Akhirnya ya,,, sekalian brgkt kerja dan sambil jalan nyari2 tinggal lah..

New Doc 2017-09-14 (1)_1

perjalanan dr srengat pada pukul 13.00, dan sampai di parkiran kediri pukul 13.45 an, ada wkt 15 menit untuk check-in dan nyari2 bekal minum. KA Brantas datang tepat wkt, skitar pukul 14.00 sdh masuk di jalur 1 stasiun kediri. KA Brantas berangkat tepat waktu 14.04.

Bismillah, inilah mulai menghadapi kenyataan lg, dengan rutinitas di Jakarta dengan Plg ke Blitar setiap Jumat dan kembali ke Jakarta hari Ahad. dengan kejamnya harga tiket dan persaingan untuk mendapatkannya.

Jakarta bukan tujuan hidupku, tp dr jakarta aku tau makna hidup, kebersamaan, seduluran, kesabaran, dan waktu dengan keluarga. Semoga Alloh selalu melindungi aku dan keluargau, menaungi dalam keberkahan. aamiin.

Ditulis di Jakarta, 19 September 2017.

Beralih moda motor bebek menuju Stasiun

Bismillah,

Tertanggal 5 agustus 2014 aku berangkat lagi seperti rutinitas berangkat kerja yang dialami oleh orang-orang pada umumnya. Rencana kereta yang akan saya naiki adalah kereta api Majapahit relasi Malang-Pasar Senen, dari kediri berangkat pukul 15.29 WIB. Saya berangkat dari rumah dengan mengendarai motor bebek astrea grand, dengan kecepatan maksimal hanya sampai maksimal 60 km/jam saja. Karena kalo saya tancap gas kenceng biasanya mblebek dan bisa mengakibatkan kematian pada mesin motor. “duh.! “ 😀

Bebek Astrea Grand

Bebek Astrea Grand

Sebelum beralih menggunakan motor, awalnya saya berangkat menggunakan bus menuju kediri. Dengan bus kawan kita Srengat-Kediri. Waktu tempuh bisa 1 jam 30 menit turun alun-alun kediri dan ditambah jalan kaki alun-alun ke stasiun 20 menit. Tetapi ketika saya naik motor, maka waktu tempuh saya adalah 45 menit. Alhamdulillah lumayan bs potong waktu tempuh 🙂 , Jika naik motor saya berangkat dari rumah pukul 14.30 dan jika naik bus maka berangkat pukul 13.30. hmmm

Rute Motor Bebek "Srengat-Kediri"

Rute Motor Bebek “Srengat-Kediri”

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 dan aku pun berpamitan dengan keluarga, bismillah berangkat. Selama perjalanan naik motor, suasana sedang cerah sekali dengan kondisi kendaraan sedikit ramai. Sesuai perkiraan maka sampailah saya di stasiun pada pukul 15.15an, kemudian motor grand saya titipkan di penitipan rumahan deket stasiun dengan ongkos perhari adalah 2rb, jika di depan stasiun yang dikelola oleh RESKA perharinya adalah 3rb. Jadi jika saya berangkat minggu naik kereta dan sabtu pagi ngambil motor maka terhitung 7hari nitip motor. Maka jatuhnya ongkos adalah 14rb. 🙂

Dan saya pun bergegas masuk peron stasiun, dan telah di umumkan akan masuk jalur satu kereta api Majapahit tujuan Pasar Senen lewat Semarang. Sebelum kereta datang, saya pun bergegas untuk melaksanakan kewajiban sholat asar. Majapahit bersilang dengan kereta rapih dhoho, dan Majapahit diberangkat dari Stasiun Kediri pukul 15.34. perjalanan pun lancar berhenti di stasiun Nganjuk, caruban lalu Babadan bersilang dengan KA Pasundan. Dan masuk Stasiun Madiun pukul 17.25, kemudian pukul 17.30 diberangkatkan lg.

Berhenti di Stasiun Geneng bersilang dengan KA Mantab lebaran, dan Berhenti di Stasiun Paron Bersilang dengan KA Argo Wilis, lalu di Stasiun kedunggalar bersilang dengan KA Sancaka. Di stasiun walikukun berhenti normal. Kemudian berhenti di Solo Jebres pukul 19.30 di jalur 1, dan berada di jalur 3 KA Matarmaja Lebaran. Kemudian matarmaja lebaran diberangkatkan dahulu. Setelah matarmaja lebarang berangkat, lalu masuk di jalur 2 KA Sancaka tujuan Jogja, dan menunggu masuk di jalur 3 KA Pasundan Lebaran. Setelah KA Pasundan lebaran masuk, diberangkatkan lagi KA Sancaka tujuan Jogja. Dan ternyata KA Majapahit masih nunggu disusul oleh KA Gajayana tujuan Gambir. Setelah disusul Gajayana, lalu Pasundan lebaran melanjutkan perjalanan lg. Dan Barulah KA Majapahit diberangkatkan lagi sekitar pukul 20.10.

Dan kemudian saya mencari posisi dlosor di lantai dengan beralasakan koran, dengan nyenyak karena kecapekan tak terasa sdh pukul 04.30 sdh mau melintas Bekasi. Alhasil Majapahit masuk jatinegara pukul 05.02. terlambat 2 jam dari jadwal yang tertera 🙂

Begitulah sedikit cerita perjalanan menuju Jakarta, dengan rombongan arus Balik setelah lebaran.

Sekian.

Ditulis di Jakarta, 06 Agustus 2014